Susu Pasteurisasi dan Susu UHT: Apa Perbedaannya?

07-07-2026 Umum Dilihat 128 kali

Susu merupakan salah satu sumber gizi yang kaya akan protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Di pasaran, masyarakat dapat menemukan berbagai jenis susu olahan, di antaranya susu pasteurisasi dan susu Ultra High Temperature (UHT). Meskipun sama-sama berasal dari susu segar dan memiliki kandungan gizi yang relatif serupa, keduanya diproses dengan teknologi yang berbeda sehingga menghasilkan karakteristik yang berbeda pula.

Masih banyak masyarakat yang menganggap susu UHT mengandung bahan pengawet karena dapat disimpan lebih lama dibandingkan susu pasteurisasi. Padahal, daya simpan yang lebih panjang pada susu UHT diperoleh melalui proses pemanasan pada suhu sangat tinggi dan pengemasan secara aseptik, bukan karena penambahan bahan pengawet.

Lantas, apa sebenarnya perbedaan antara susu pasteurisasi dan susu UHT?

Apa Itu Susu Pasteurisasi?

Susu pasteurisasi adalah susu yang dipanaskan pada suhu tertentu selama waktu tertentu untuk membunuh bakteri penyebab penyakit (patogen) dan mengurangi jumlah mikroorganisme pembusuk, tanpa mengubah karakteristik utama susu secara signifikan.

Metode pasteurisasi yang umum digunakan meliputi:

  • Low Temperature Long Time (LTLT): sekitar 63°C selama 30 menit.

  • High Temperature Short Time (HTST): sekitar 72°C selama 15 detik.

Proses ini mampu menonaktifkan sebagian besar bakteri berbahaya, seperti Salmonella spp., Listeria monocytogenes, Campylobacter jejuni, dan Escherichia coli patogen. Namun, masih terdapat sebagian mikroorganisme non-patogen yang dapat bertahan sehingga susu pasteurisasi harus selalu disimpan pada suhu dingin (sekitar 4°C) untuk menjaga kualitas dan keamanannya.

Apa Itu Susu UHT?

Susu Ultra High Temperature (UHT) adalah susu yang dipanaskan pada suhu sangat tinggi, yaitu sekitar 135–150°C selama 2–5 detik, kemudian segera didinginkan dan dikemas secara aseptik dalam kemasan steril.

Proses tersebut menghasilkan susu yang secara komersial steril (commercially sterile), sehingga dapat disimpan pada suhu ruang selama kemasannya belum dibuka.

Karena menggunakan teknologi pemanasan yang sangat singkat, kualitas gizi susu UHT tetap dapat dipertahankan dengan baik, meskipun beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan sebagian vitamin B, dapat mengalami sedikit penurunan.

Perbedaan Susu Pasteurisasi dan Susu UHT

Aspek

Susu Pasteurisasi

Susu UHT

Suhu pemanasan

±63–72°C

±135–150°C

Lama pemanasan

15 detik–30 menit

2–5 detik

Tujuan proses

Membunuh bakteri patogen

Mencapai sterilitas komersial

Penyimpanan sebelum dibuka

Selalu dalam lemari pendingin

Dapat disimpan pada suhu ruang

Umur simpan

Beberapa hari hingga sekitar dua minggu (tergantung proses dan kemasan)

Beberapa bulan dalam kemasan utuh

Rasa

Lebih menyerupai susu segar

Sedikit lebih matang (cooked flavor)

Setelah kemasan dibuka

Tetap harus disimpan di lemari pendingin dan segera dikonsumsi

Harus disimpan di lemari pendingin dan segera dikonsumsi

Apakah Kandungan Gizinya Berbeda?

Salah satu anggapan yang masih sering beredar adalah bahwa susu UHT memiliki kandungan gizi yang jauh lebih rendah dibandingkan susu pasteurisasi. Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa protein, lemak, kalsium, fosfor, dan sebagian besar zat gizi utama tetap terjaga pada kedua jenis susu.

Perbedaan yang mungkin terjadi terutama terdapat pada beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C, folat, dan sebagian vitamin B. Namun, penurunan tersebut umumnya relatif kecil dan tidak menjadikan susu UHT sebagai produk dengan nilai gizi yang rendah.

Dengan demikian, baik susu pasteurisasi maupun susu UHT tetap merupakan sumber protein dan kalsium yang baik apabila dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.

Benarkah Susu UHT Mengandung Bahan Pengawet?

Ini merupakan salah satu mitos yang paling sering ditemui.

Susu UHT tidak memerlukan penambahan bahan pengawet agar tahan lama. Daya simpannya diperoleh dari kombinasi proses pemanasan suhu sangat tinggi dalam waktu singkat dan pengemasan aseptik yang mencegah masuknya mikroorganisme setelah proses produksi.

Apabila kemasan tetap utuh dan belum dibuka, susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang hingga batas kedaluwarsa yang tercantum pada kemasan.

Bagaimana Cara Menyimpan Susu dengan Benar?

Agar kualitas susu tetap terjaga, masyarakat perlu memperhatikan cara penyimpanannya.

Untuk susu pasteurisasi:

  • simpan pada suhu lemari pendingin sekitar 4°C;

  • jangan dibiarkan berada pada suhu ruang terlalu lama;

  • habiskan sesuai petunjuk pada kemasan.

Untuk susu UHT:

  • sebelum dibuka dapat disimpan pada suhu ruang yang sejuk dan kering;

  • setelah dibuka harus disimpan di lemari pendingin;

  • konsumsi dalam beberapa hari sesuai petunjuk pada label.

Selain itu, selalu gunakan wadah yang bersih dan hindari meminum langsung dari kemasan apabila susu tidak akan langsung dihabiskan, untuk mengurangi risiko kontaminasi.

Tips Memilih Susu yang Aman

Sebelum membeli susu, biasakan menjadi konsumen cerdas dengan melakukan pemeriksaan sederhana:

  • Cek Kemasan: Pastikan kemasan tidak bocor, menggembung, penyok, atau rusak.

  • Cek Label: Bacalah informasi mengenai komposisi, nilai gizi, petunjuk penyimpanan, dan cara penggunaan.

  • Cek Izin Edar: Pastikan produk memiliki izin edar BPOM untuk produk yang diwajibkan atau memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku.

  • Cek Kedaluwarsa: Jangan membeli atau mengonsumsi produk yang telah melewati tanggal kedaluwarsa.

Untuk susu pasteurisasi yang dijual di toko, pastikan produk disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu yang sesuai. Hindari membeli produk yang dibiarkan terlalu lama di luar pendingin.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Tidak ada jawaban mutlak mengenai jenis susu yang "lebih baik". Baik susu pasteurisasi maupun susu UHT memiliki kelebihan masing-masing.

Susu pasteurisasi umumnya memiliki cita rasa yang lebih mendekati susu segar dan cocok bagi konsumen yang memiliki akses terhadap rantai pendingin (cold chain). Sementara itu, susu UHT lebih praktis karena dapat disimpan lebih lama pada suhu ruang sebelum kemasan dibuka, sehingga cocok untuk dibawa bepergian atau disimpan sebagai persediaan.

Yang terpenting adalah memilih produk yang aman, memperhatikan cara penyimpanan, serta mengonsumsinya sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.

Kesimpulan

Susu pasteurisasi dan susu UHT sama-sama merupakan produk susu yang aman dan bergizi apabila diproses sesuai standar serta disimpan dengan benar. Perbedaan utama keduanya terletak pada suhu dan lama pemanasan, metode pengemasan, serta masa simpan produk.

Masyarakat tidak perlu khawatir bahwa susu UHT mengandung bahan pengawet hanya karena lebih awet. Ketahanan produk berasal dari teknologi pengolahan dan pengemasan modern yang dirancang untuk menjaga keamanan pangan.

Dengan memahami perbedaan kedua jenis susu ini, masyarakat dapat memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan, gaya hidup, dan cara penyimpanan yang tersedia di rumah.

 

Sarana