Cerdas Memilih Kemasan, Wujudkan Pangan Aman Melalui Pengenalan Kode Plastik

22-06-2026 Umum Dilihat 299 kali

Kemasan pangan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keamanan, mutu, dan kualitas produk pangan yang dikonsumsi masyarakat. Selain berfungsi sebagai pelindung dari kerusakan fisik, pencemaran, serta pengaruh lingkungan, kemasan juga harus memenuhi persyaratan keamanan agar tidak menyebabkan perpindahan zat berbahaya ke dalam pangan. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat mengenai jenis dan kode kemasan pangan menjadi langkah penting dalam memilih produk yang aman.

 

Saat ini, berbagai jenis kemasan plastik banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari botol minuman, wadah makanan, hingga kantong pembungkus pangan. Pada bagian bawah beberapa kemasan plastik terdapat simbol segitiga dengan angka 1 hingga 7 yang dikenal sebagai kode identifikasi plastik (Resin Identification Code). Kode tersebut menunjukkan jenis bahan plastik yang digunakan, sehingga dapat membantu mengenali karakteristik kemasan dan penggunaannya. Namun, kode tersebut bukan secara langsung menunjukkan tingkat keamanan pangan, karena keamanan kemasan tetap harus mempertimbangkan kesesuaian bahan, proses produksi, serta peruntukannya sebagai kemasan kontak pangan. 

 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan mengatur bahwa setiap kemasan yang digunakan untuk pangan harus memenuhi persyaratan keamanan dan tidak membahayakan kesehatan manusia. Peraturan tersebut mencakup ketentuan mengenai bahan kontak pangan yang diperbolehkan, bahan yang dilarang digunakan, serta batas migrasi zat dari kemasan ke pangan. 

 

Salah satu jenis plastik yang banyak digunakan untuk kemasan pangan adalah plastik dengan kode 1 atau PET (Polyethylene Terephthalate), yang umum ditemukan pada botol air minum dan minuman kemasan. Kemasan jenis ini umumnya digunakan untuk sekali pemakaian dan tidak dianjurkan digunakan kembali secara terus-menerus, terutama untuk menyimpan pangan atau minuman bersuhu tinggi. Sementara itu, plastik kode 2 atau HDPE (High Density Polyethylene) memiliki karakteristik kuat dan stabil sehingga banyak digunakan pada kemasan susu, botol, serta wadah pangan tertentu. 

 

Kemasan dengan kode 5 atau PP (Polypropylene) juga banyak digunakan pada wadah makanan, kotak bekal, serta kemasan yang membutuhkan ketahanan terhadap suhu lebih tinggi. Jenis plastik ini memiliki sifat yang relatif stabil dan sering digunakan sebagai bahan kontak pangan apabila telah memenuhi persyaratan keamanan yang berlaku. Selain itu, plastik kode 4 atau LDPE (Low Density Polyethylene) juga digunakan pada beberapa pembungkus pangan karena sifatnya yang fleksibel, meskipun penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi pangan dan suhu penggunaannya. 

Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan kemasan plastik tertentu, seperti kode 3 (PVC) dan kode 6 (PS atau polistirena). Penggunaan kemasan tersebut harus memperhatikan peruntukan dan kondisi penggunaannya karena beberapa bahan kimia penyusun plastik dapat berpotensi bermigrasi apabila tidak digunakan sesuai ketentuan, terutama pada pangan panas atau pangan dengan kandungan lemak tinggi. Kajian ilmiah mengenai bahan kontak pangan juga menunjukkan bahwa faktor suhu, lama kontak, serta karakteristik pangan dapat memengaruhi kemungkinan migrasi zat dari kemasan ke dalam makanan. 

 

Selain memperhatikan kode kemasan, konsumen juga perlu menerapkan kebiasaan memilih pangan yang aman dengan memperhatikan kondisi fisik kemasan, informasi pada label, serta penggunaan kemasan sesuai fungsinya. Hindari menggunakan wadah plastik yang sudah rusak, berubah warna, atau tidak diperuntukkan untuk makanan. Jangan pula memanaskan makanan menggunakan kemasan yang tidak memiliki keterangan aman untuk pemanasan karena suhu tinggi dapat meningkatkan risiko perpindahan zat dari kemasan ke pangan. 

 

Peningkatan literasi masyarakat mengenai kode kemasan pangan merupakan bagian dari upaya mewujudkan keamanan pangan dari tingkat konsumen. Dengan mengenali jenis kemasan dan memahami cara penggunaannya, masyarakat dapat menjadi konsumen yang lebih cerdas dalam memilih produk pangan, sekaligus berperan dalam menjaga kesehatan keluarga melalui penerapan perilaku pangan aman

Sarana