BPOM Goes To Campus: Pentingnya Kompetensi Bagi Calon Apoteker pada Distribusi Obat

14-10-2026 Balai POM di Tasikmalaya Dilihat 81 kali

Kota Tasikmalaya (13/10/2026) — Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Tasikmalaya bekerja sama dengan Universitas Bakti Tunas Husada menggelar kegiatan penyebaran informasi dengan mengusung tema “BPOM Goes To Campus: Penguatan Peran Apoteker dalam Pengelolaan Sediaan Farmasi di Fasilitas Distribusi.” Acara yang berlangsung di Gedung Auditorium Kampus Universitas Bakti Tunas Husada ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Bakti Tunas Husada. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada calon apoteker dalam menjamin mutu, keamanan, dan khasiat sediaan farmasi selama proses distribusi sehingga masyarakat terlindungi dari peredaran obat yang tidak memenuhi standar.  

Kepala Balai POM di Tasikmalaya, Iltizam Nasrullah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Apoteker berperan penting dalam pengelolaan obat agar sesuai dengan standar karena berpengaruh terhadap mutu, keamanan, dan khasiat. “Obat harus  dikelola dan didistribusikan dengan benar hingga sampai ke tangan masyarakat, sehingga sebagai calon apoteker harus menguasai regulasi dan standar serta menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab profesional” ujar Iltizam.

Pada pemaparan sesi pertama, narasumber dari Balai POM Tasikmalaya, Fajar Sukma Perdana, menyampaikan mengenai BPOM dan Peran Apoteker di BPOM. Ia menjelaskan terkait profil BPOM dan Balai POM di Tasikmalaya serta peran apoteker sebagai Pengawas Farmasi dan Makanan. “BPOM merupakan lembaga non-kementerian yang melaksanakan tugas pemerintah dibidang pengawasan obat dan makanan. Dalam menjalankan tugasnya di bidang pengawasan, BPOM memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di wilayah Indonesia, salah satunya berada di Tasikmalaya yaitu Balai POM di Tasikmalaya,” terang Fajar. Selain itu, Fajar juga menambahkan dan memaparkan terkait peran Apoteker di bidang pengawasan obat  makanan sebagai Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) yang mencakup juga pembahasan terkait dasar hukum PFM, jabatan fungsional PFM, ekosistem profesional PFM, syarat wajib PFM, dan tangga karir serta risiko PFM.

Pada sesi kedua, Dwi Yogo Prasetyo menyampaikan materi mengenai Peran Apoteker dalam Pengelolaan Sediaan Farmasi di Fasilitas Distribusi. “Peran apoteker dalam distribusi sedian farmasi salah satunya adalah menyusun, memastikan, dan mempertahankan sistem mutu. Selain itu, memastikan kualifikasi pemasok dan pelanggan yang sesuai kriteria serta memastikan program pelatihan awal, dan pelatihan lanjutan berkala yang diimplementasikan dan dipelihara, dan peran lain yang berkaitan dengan semua aspek CDOB di PBF” jelas Yogo.  Yogo juga menambahkan dan menjelaskan terkait aspek-aspek yang ada di CDOB seperti Manajemen Mutu, Organisasi dan Personalia, Bangunan dan Peralatan, Dokumentasi, Operasional, Keluhan, Produk Kembalian, Diduga Palsu, dan Penarikan Kembali, Kegiatan Alih Daya, Inspeksi Diri, Transportasi, Ketentuan Khusus CCP (Cold Chain Product), Ketentuan Khusus NPP (Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor).

Pada sesi terakhir, Nabhiela Agnes Wulandari, memaparkan materi tentang Cek KLIK dan penggunaan aplikasi BPOM Mobile. Penerapan Cek KLIK dan pemanfaatan aplikasi BPOM Mobile dapat membantu masyarakat dalam memilih dan membeli produk obat dan makanan yang aman. 

Balai POM di Tasikmalaya juga berkomitmen untuk mendukung penguatan peran apoteker dalam pengelolaan sediaan farmasi. Kolaborasi dengan Universitas BTH diharapkan dapat menyiapkan calon apoteker yang berintegritas dan bertanggung jawab, sehingga sediaan farmasi yang dikelola dan didistribusikan sesuai dengan standar untuk melindungi masyarakat.

 

Sarana